NARASI KEHIDUPAN KU

September 27th, 2007 by erik-ariyanto

NARASI
KEHIDUPAN KU

(
28 September 2007 , 04:49 AM Chatracter)

Ditulis
Oleh : Erik Ariyanto ( Jakarta 1 Maret 1987)

 

"I
want you to get excited about who you are, what you are, what you
have, and what can still be for you. I want to inspire you to see
that you can go far beyond where you are right now."

Life
is a narrative that you have a hand in writing.”

(Virginia
Satir)

 

Setiap detik adalah adegan yang
menentukan jalan cerita keseluruhan kehidupan kita. Setiap detik saat
berhadapan dengan banyak pilihan, sesungguhnya kita sedang ditantang
untuk menentukan sendiri alur drama yang hendak dibangun. Pilihan
detik ini, pilihan hari lalu, menentukan seperti apa kita hari ini
dan akan datang. Langkah yang kita ambil yang berakar dari banyak
pilihan yang tersedia pada akhirnya akan membentuk narasi kehidupan
kita.

Tuhan tak merubah nasib kita, bila kita tak berupaya mengubah
nasib. Kalau pun kita tak bisa merubah takdir, maka dengan upaya di
tengah keterbatasan manusiawi, maka mungkin kita masih bisa sekedar
berpindah dari satu takdir ke takdir lain. Namun itu lebih dari
cukup, karena di sana masih menyimpan ruang bagi kebebasan kita.

Mendalami narasi kehidupan, maka sesungguhnya terbuka sebuah ruang
amat besar bagi kita semua untuk membangun narasi impian pribadi.
Kita punya hak dan punya daya untuk membuat pilihan yang kita yakini
akan mengantar kita pada cerita bahagia di depan sana. Kita punya
kemampuan membangun narasi masa depan. Memulai narasi hari ini pasti
akan mengantar Anda sampai pada narasi masa depan.

Rumus SUKSES ku :

 

SUKSES = Valensi x
To Be


                     To Have

 

Inilah Narasi kehidupan yang akan aku bangun

Valensi
:

  1. Kemampuan Komunikasi

  2. Kejujuran / Integritas

  3. Kemampuan Bekerja Sama

  4. Kemampuan Interpersonal

  5. Beretika

  6. Motivasi / Inisiatif

  7. Kemampuan Beradaptasi

  8. Daya Analitik

  9. Kemampuan Komputer

  10. Kemampuan Berorganisasi

  11. Berorientasi pada Detail

  12. Kepemimpinan

  13. Kepercayaan Diri

  14. Ramah

  15. Sopan

  16. Bijaksana

  17. Indeks Prestasi > 3

  18. Kreatif

  19. Humoris

  20. Entrepreneurship

To
Be :

  1. Mahasiswa dengan IPK > 3

  2. Pengusaha / Pebisnis dengan income > 10 jt / bulan

  3. Trainer / Pembicara Business & Marketing, Life
    Balance & Management, Mind Empowerment

  4. Dai / Pementor 1000 murid didik

  5. Penulis Buku & Artikel

  6. Suami dengan Istri berprofesi sebagai seorang Dokter
    (muda)

  7. Bapak / Ayah yang mempunyai 3 orang anak

  8. Haji yang Mabrur seluruh keluarga

  9. Keluarga yang bahagia, sakinah, mawadah wa rahmah

  10. Penjelajah / keliling Dunia (adventure)

  11. ???

To
Have :

  1. Mobil dan kendaran pribadi lainnya

  2. Rumah pribadi dengan taman yang luas

  3. Perusahaan Multinasional & internasional

  4. Masjid megah & besar

  5. Penampungan anak yatim / terlantar, orang gila, dan
    orang-orang tak bertempat tinggal

  6. Perpustakaan Pribadi dengan 1000 macam koleksi buku

  7. Sekolahan GRATIS bagi masyarakat yang kurang mampu

  8. ???

Betapa rapuh diriku

February 18th, 2007 by erik-ariyanto

Kerisauan dan kegelisahan hidup sepanjang hari senantiasa aku alami, mengingat betapa berat beban hidup ini. Ditengah kondisi ekonomi yang semakin tidak tentu, harga kebutuhan semakin membumbung tinggi dan biaya untuk memenuhi kebutuhan hidup semakin hari semakin tak mampu aku cukupi. Mulai dari kebutuhan makan sehari-hari, fotocopy bahan perkuliahan, biaya rekening listrik, beban pulsa handphone, mencicil hutang-hutang, biaya sewa rumah sampai biaya SPP kuliahku setiap semester serasa semakin membebaniku.

Selama itu aku senantiasa mencoba untuk tegar sebisaku memenuhi semua yang menjadi kebutuhan dengan bekerja dan berbisnis sebisaku. Sementara hasil dari pekerjaanku samasekali tidak dapat dijadikan pengharapan, demikian juga dengan hasil bisnisku jauh dari cukup. Namun apa yang bisa aku lakukan, hanya menjalani semua dengan kesabaran dan kepasrahan. Memang benar, Alloh Ta’alaa telah mengatur semua kebutuhan umat-Nya, terbukti dengan penghasilan seadanya saya masih bisa makan, bisa mengisi bensin motor, membeli perlengkapan kuliah walaupun sebagian hutang harus saya tunda pembayarannya.

Hal seperti itu berlangsung begitu lama namun sepertinya bagiku yang aku terima masih kurang sehingga sifat lemah iman menggerogotiku, kesabaran yang tadinya aku coba pelihara semakin hari semakin surut, sikap pasrah yang ada dalam hatiku kala itu terkikis oleh kelemahanku. Dalam batin terbersit sebuah pembenaran : orang-orang yang tidak sholat dan jauh dari agama Alloh hidupnya senang-senang saja bahkan semakin bertambah kekayaannya. Mereka yang bergelimang maksiyat terlihat begitu nikmat menjalani hidup mereka, tanpa beban seakan semua yang mereka inginkan mudah mereka dapatkan. Mengapa aku yang menjalankan ibadah baik sholat, puasa, wirid dan selalu mengingat Alloh (menurut pengertianku karena Alloh Ta’alaa yang lebih tahu) selalu susah untuk mendapatkan apa yang aku inginkan. Padahal aku tidak meminta agar kaya raya dan bergelimang harta, hanya tercukupi kebutuhan hidupku, tapi apa yang aku harapkan itu sangat susah didapatkan.

Akhirnya ibadah sholatku dari hari kehari semakin menurun kwalitasnya hingga pada suatu kesempatan samasekali tidak melakukan sholat. Namun apa yang terjadi bukan ketenangan dan kesuksesan yang aku dapatkan, kesusahan hidupku semakin bertambah dari hari ke hari. Hal itu tidak berlangsung lama, aku mulai menyadari kekeliruan jalan fikiran tentang orang-orang yang jauh dari ibadah kepada Alloh. Sesungguhnya Alloh sangat menyayangiku, betapa tidak seandainya saja ketika aku tidak beribadah kepada Alloh jauh dari Alloh dan dengan kekuasaan-NYA, Alloh menjadikan hidupku secara materi duniawi terpenuhi dan aku terlena dan semakin terlena sampai akhir hidupku, akan jadi apa aku ketika menghadap Alloh Ta’alaa.

Aku menyadari semua terjadi bukan tanpa kendali dari Alloh, dengan kuasa-NYA Alloh ingin menunjukkan kepadaku betapa rapuh dan lemahnya manusia tanpa pertolongan Alloh. Keyakinanku semakin tebal tatkala membaca penggalan surat Al-Fatihah yang berbunyi "iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin".
Yaa Alloh ternyata Engkau membuka tabir itu semakin jelas lewat arti dari penggalan surat Al-Fatihah tersebut : "Kepada-MU (Alloh) lah aku menyembah dan hanya kepada-MU (Alloh) lah aku memohon pertolongan". Pencarianku berujung pada sebuah kenyataan yang tak terpungkiri bahwa Alloh Maha Penolong.

Alloh begitu indahnya menata hidupku sesuai dengan kehendak-NYA. Penghasilanku yang apabila dihitung secara matematis samasekali tidak mampu mencukupi seluruh kebutuhan hiduku. Namun Alloh mengaturnya begitu sempurna mulai tanpa diduga aku mendapatkan hasil lebih dari bisanya, dari pekerjaanku,orderan kaktus, komputer dan lain sebagainya yang semua itu tentu atas izin dan kehendak Alloh. Semua yang terjadi menjadikan aku sungguh sangat bersyukur, walau hidup boleh dikatakan cukup namun aku belajar untuk mensyukuri nikmat yang Alloh berikan, mengapa aku tidak menyadari bahwa nikmat dari Alloh aku dapatkan setiap saat dalam hidupku mulai dari bangun pagi, Alloh masih memberikan aku waktu untuk menghirup udara, menikmati hari dengan tubuh yang sehat, menyaksikan gedung D2 (biologi, tempatku kuliah) yang semakin kumal, mencermati pasaran Warnet Character tempatku bekerja yang semakin surut, menikmati hidangan walau seadanya dengan nikmat sementara orang lain walau bergelimang kemewahan namun tidak dapat menikmati karunia Alloh karena sakit yang parah. Tentu masih banyak lagi nikmat lain yang seandainya aku tuliskan tak cukup untuk aku paparkan hingga menjelang tidurku.

Benar adanya bahwa Alloh Ta’alaa berserta orang-orang yang sabar dan berserah diri, Alloh memudahkan segala urusan, kesulitan dan perkara-perkaraku. Tentu itu semua terjadi sesuai dengan kehendak dan rencana-NYA, aku samasekali tidak memiliki kemampuan untuk meminta penyelesaian sesuai dengan kemauanku sendiri. Penyelesaian segala urusanku ternyata begitu sempurna dari yang Maha Sempurna, semoga benar adanya Alloh meridhoiku. Tidak ada keraguan lagi bahwa hidup memang harus disyukuri apapun keadaan hidup kita itulah yang terbaik menurut Alloh, menjalaninya dengan kesabaran dan ketawakalan karena Alloh pasti menguji umat-NYA yang mengaku beriman kepada-NYA dengan segala bentuk ujian.

Keahlian Berkomunikasi (baca: Menulis) Adalah Kunci Keberhasilan Kaum Profesional

February 10th, 2007 by erik-ariyanto

"Communication is the most important skill in life."– Stephen Covey (Pengarang Seven Habits)

“Reading maketh a full man, conference a ready man, and writing an exact man” – Sir Francis Bacon (Bapak Ilmu Pengetahuan Modern)

“Writing – the art of communicating thoughts to the mind – is the great invention in the world Great, very great, it enabling us to converse with the dead, the absent, and the unborn, at all distances of time and space, and great not only in its direct benefits, but its great help to all other inventions.” – Abraham Lincoln (Mantan Presiden Amerika)

From poetry to letters to stories to laws, we must learn to write in order to participate in the range of experiences available to us as human beings. Our spiritual lives, our economic success, and our social networks are all directly affected by our willingness to do the work necessary to acquire the skill of writing. In a very real way neither our democracy nor our personal freedoms will survive unless we as citizens take the time and make the effort needed to learn how to write.” – Mantan Senator, Bob Kerry (National Commission on Writing)

"Kemampuan menulis setiap orang hanya dibatasi oleh imajinasi."– Ikhwan Sopa

Sebagai profesional, kita dituntut untuk selalu berhubungan dengan pihak lain. Berhubungan dengan pihak lain dilakukan dengan berkomunikasi. Kemampuan berkomunikasi dengan baik, benar, efektif dan efisien adalah tuntutan mutlak bagi kemajuan karir, enterpreneurship dan leadership. Itu sebabnya orang-orang yang punya karir bagus, pengusaha sukses dan para pemimpin besar bisa dipastikan hebat dalam berbicara, menulis, membaca dan mendengar.

Kita bisa memastikan hal itu dengan melihat berbagai fakta sejarah dari orang-orang terkenal. Lihatlah Adolf Hitler, Mussolini, Bung Karno, Bung Hatta, RA Kartini, Fidel Castro, Saddam Husein, Kwik Kian Gie, Gde Prama, Rhenald Kasali, Bondan Winarno atau Hermawan Kertajaya. Itu semua masih terlalu sedikit untuk mewakili semua contoh nyata. Pidato mereka begitu terkenal, menjadi inspirasi dan didengar oleh banyak orang. Kata-kata mereka menjadi kutipan abadi. Buku, tulisan dan bahkan surat-surat pribadi mereka menjadi best seller sepanjang zaman. Mereka telah membaca begitu banyak literatur dan referensi. Apa yang mereka baca selalu dianjurkan untuk dibaca oleh semua orang lain hanya karena mereka membacanya, dengan harapan kemampuan mereka bisa diwarisi oleh para pengikutnya. Lebih dari itu, mereka adalah orang-orang yang sangat pandai dalam mendengarkan orang lain, situasi dan keadaan.

Mereka adalah para ahli dalam berkomunikasi. Mengapa toko buku tak pernah sepi dari pengunjung? Mengapa sepatah dua patah kata dari para tokoh dan selebriti selalu diharapkan dalam setiap event? Mengapa kursus bahasa Inggris dan ilmu komputer begitu laris? Mengapa iklan di media massa dipandang sebagai cara efektif untuk mendongkrak penjualan? Mengapa narasumber tertentu begitu sibuknya menjawab pertanyaan konsultasi atau memberikan seminar dan pelatihan? Kuncinya adalah fakta bahwa setiap orang secara alamiah sangat menghargai kemampuan berkomunikasi!

Jika kita cermati, kemampuan berkomunikasi dikembangkan dari empat modal pokok yaitu:

- Listening atau mendengar;

- Speaking atau berbicara;

- Reading atau membaca; dan

- Writing atau menulis.

Perhatikan bahwa empat modal dasar di atas tidak pernah berdiri sendiri. Perhatikan pula bahwa urut-urutannya tidak bisa ditentukan dengan ranking. Anda pasti yakin bahwa sekalipun writing atau menulis dalam modal dasar di atas diletakkan di baris akhir, keberadaannya harus tetap merupakan satu kesatuan dengan modal dasar lainnya secara proporsional dan berimbang. Apa yang harus kita lakukan adalah mencapai keseimbangan itu dengan menulis sebanyak kita berbicara, mendengar dan membaca.

Anda bisa mencapai apa yang Anda cita-citakan dalam karir, enterpreunership dan leadership hanya jika Anda memiliki bekal yang lengkap. Salah satunya, adalah kemampuan menulis.

Mengapa harus Menulis?

Dalam berkomunikasi lisan, kita menyampaikan ide kepada orang lain. Komunikasi itu hanya akan berjalan dengan baik jika apa yang hendak disampaikan memang bisa tepat sama dengan apa yang dipersepsi oleh pihak penerimanya. Dalam menulis, kata-kata adalah batu bata dalam berkomunikasi yang memiliki fungsi sama. Berbicara kepada anak-anak membutuhkan bahasa lisan yang bisa dimengerti dan dipahami oleh anak-anak. Berbicara kepada orang tua dari kaum profesional menuntut hal yang sama.

Begitu pula dengan menulis. Jika Anda sudah berbicara seumur hidup Anda, maka Anda sangat mungkin tidak menghadapi kendala dalam berkomunikasi lisan. Akan tetapi, jika akumulasi aktivitas menulis Anda hanya 3 tahun sementara usia Anda sudah 25 tahun atau lebih, maka Anda sangat mungkin mengalami berbagai kesulitan dalam berkomunikasi secara tertulis. Sebabnya hanya satu, jam terbang Anda dalam menulis masih terhitung rendah. Maka sekali lagi, kita tidak punya pilihan lain kecuali mencoba untuk menulis sebanyak kita membaca, sebanyak kita mendengar dan sebanyak kita berbicara. Formulir, laporan, proposal, hasil pertemuan, perjanjian, pernyataan, research memo, judicial review dan sebagainya jelas menuntut keahlian menulis yang baik. Itu artinya perlu latihan, brainstorming dan diskusi. Salah satu media latihan yang terbaik adalah menulis di berbagai media seperti jurnal, majalah, surat kabar dan sebagainya atau bahkan menulis buku. Maka, menulis menjadi bagian tak terpisahkan dari profesi seseorang.

Francis Bacon (filsuf Inggris yang disebut sebagai Bapak Ilmu Pengetahuan Modern) mengatakan “reading maketh a full man, conference a ready man, and writing an exact man”. Oleh sebab itu, pengetahuan dan keahlian seseorang akan dapat dikembangkan dengan akurat dan efektif melalui kegiatan menulis dari pada sekedar membaca atau berdiskusi saja. Ingatlah kembali bagaimana sulitnya Anda saat masih di Taman Kanak-kanak, saat di SD, SMP, SMA atau bahkan di bangku kuliah. Anda telah belajar dengan keras, susah payah atau bahkan menyakitkan. Mulanya Anda hanya dituntut untuk bisa berkata-kata. Kemudian Anda diperkenalkan pada huruf dan simbol. Selanjutnya Anda dituntut untuk selalu membaca. Pada saat yang sama, Anda juga mulai dituntut untuk mulai menulis dan mendengarkan orang lain dengan lebih baik. Memasuki SMP, Anda diharapkan sudah menguasai semuanya. Sejak saat itu Anda mulai menguasai semuanya. Anda mulai pintar membaca, mendengar orang lain lewat debat dan diskusi, mulai pandai berbicara dan sesekali menulis.

SEKALI-SEKALI? Ya Anda hanya menulis sekali-sekali saja! Coba Anda hitung dan bandingkan porsi Anda dalam membaca, mendengar atau berbicara dengan menulis. Anda pasti terkejut bahwa aktivitas menulis Anda tidak akan mencapai 25% dari keseluruhan aktivitas Anda. Dalam banyak hal, pekerjaan menulis laporan atau proposal bahkan sudah menjadi semacam alergi bagi Anda sendiri. Apa yang terjadi? Yang terjadi sesungguhnya adalah ketidakseimbangan dalam perkembangan kemampuan Anda. Dan dalam hal ini, Anda telah menyia-nyiakan apa yang sudah Anda peroleh sejak kecil dengan mengembangkannya tanpa memperhatikan proporsi. Kemampuan menulis itu penting. Penting bagi karir Anda, penting bagi cita-cita Anda dan penting bagi karakter kepemimpinan Anda. Perhatikan grafik berikut ini.

Selama sekolah Anda masih mungkin bisa menyeimbangkan kemampuan dalam menulis, membaca, mendengar dan berbicara. Akan tetapi begitu kita memasuki dunia karir dan wilayah kerja, perkembangan kemampuan menulis Anda mulai tertinggal jauh dari kemampuan Anda dalam membaca, mendengar dan berbicara. Sengaja atau tidak, aktivitas menulis Anda hanya dibatasi pada laporan, formulir atau proposal.

Padahal, kemampuan Anda yang lain terus tumbuh dan berkembang. Maka, sangat mungkin kemampuan menulis Anda menjadi stagnan atau bahkan menurun. Cepat atau lambat, sesuai karakteristiknya penurunan kemampuan dalam menulis justru berkembang menjadi hambatan bagi kemajuan kemampuan membaca, mendengar dan berbicara.

Tidak menulis berarti Anda telah menyia-nyiakan kemampuan dasar yang sudah Anda peroleh di masa-masa awal pendidikan Anda. Dengan kata lain, telah terjadi penyimpangan dari rencana hidup atau blue print Anda sendiri, yang semestinya dikembangkan secara paralel dan seimbang! Berikut ini adalah fakta-fakta tentang pentingnya menulis bagi keberhasilan seorang profesional.

Hackett, Betz dan Doty (1985), dalam sebuah buku mereka mengungkapkan bagaimana karir seseorang bisa dikembangkan melalui berikut ini.

Communication Skill Career

Advancement Skill I

nterpersonal Skill

Job-Specific Skill

Political Skill

Adaptive-Cognitve Skill

Administrative and Leadership Skill

Career Management Skill

Kemampuan menulis adalah bagian yang tak terpisahkan dari pengembangan Job-Specific Skill. Oleh sebab itu, mereka meletakkan kemampuan menulis sebagai salah satu unsur utama.

Kemampuan menulis bisa dikembangkan dengan cara-cara:

- Sering menulis berdasarkan kegunaan (purpose) spesifik atau audience spesifik;

- Memahami fakta bahwa “menulis” adalah “menengok kembali” (writing is revising). Dengan kata lain, menulis adalah memperdalam keahlian Anda;

- Memperoleh pengalaman editing yang akan bermanfaat tidak hanya untuk menulis akan tetapi secara keseluruhan bermanfaat untuk pengembangan kemampuan riset dan auditory atau observasi;

- Mempublikasikan tulisan. Seorang pakar komunikasi, Donna M. Mc. Cune mengungkapkan pengalamannya. Bisa jadi Anda adalah seorang profesional yang hebat. Berapa lamakah karir Anda akan tetap bersinar? 10 tahun? 20 tahun? 30 atau 50 tahun? Jika profesi Anda menuntut pemikiran yang hebat, atau jika Anda harus bekerja dengan tangan atau kaki Anda, Anda mungkin masih bisa melakukannya dengan baik saat ini. Bagaimana dengan 20 atau 30 tahun lagi? Anda jelas tidak akan bisa bertahan hanya dengan menekan-nekan tombol keyboard di depan komputer untuk melakukan entry atas hal-hal yang sama sepanjang hidup Anda. J

ika Anda bercita-cita menjadi petani atau traveller pengeliling dunia, Anda pun sudah harus mempersiapkannya dari sekarang. Lebih dari itu, ada satu hal yang bisa amat membantu mencapai apapun cita-cita Anda di masa depan dan pada saat yang sama menyelesaikan berbagai tugas Anda di masa sekarang dengan lebih baik, yaitu lebih sering menulis. Jika kita perhatikan baik-baik, tingkatan achievement yang dianggap paling tinggi bagi seorang profesional adalah membagi semua ilmu yang dimiliki kepada orang lain.

Itu sebabnya setiap orang hebat di dunia pada akhirnya akan menulis buku atau menjadi public speaker yang berbicara di depan orang banyak. Artinya, hampir bisa dipastikan bahwa karir setiap profesional akan bermuara pada aktivitas berbicara dan menulis. Menjadi pembicara atau penulis. Seorang S3 pada akhirnya harus mampu berbicara dan menulis dengan baik. Seorang pedagang asongan yang sempat menjadi konglomerat pun demikian. Maka, menulis adalah alat survival. Anda harus percaya, muara manapun yang Anda pilih – pembicara atau penulis, kemampuan menulis adalah tulang punggungnya.

Masalahnya, apa yang sudah Anda persiapkan mulai sekarang, sementara kita mengetahui bahwa aktivitas menulis Anda terbilang minim? Pada tahun 1988, sebuah survey melaporkan bahwa 79% dari eksekutif yang menjadi objek survey mengungkapkan bahwa menulis adalah kemampuan yang paling diabaikan dalam dunia bisnis. Padahal menurut mereka, keahlian menulislah yang justru paling penting dalam konteks produktifitas.

Pada tahun 1989, seberkas white paper berjudul “Perspectives on Education: Capabilites for Success in Accounting Profession” mengungkapkan bahwa semua dari 8 besar kantor akuntan publik (Big-8 Firms) menyepakati bahwa akademi dan universitas manapun semestinya menyediakan suatu kurikulum, yang bisa mengembangkan kemampuan komunikasi para siswa. Pada tahun 1990, Accounting Education Change Commission, menggaungkan sentimen yang sama sekali lagi dalam “Objectives of Education for Accountants: Position Statement Number One.” Para siswa, calon akuntan dan para profesional yang menunjukkan kemampuan komunikasi yang kuat, secara tegas menunjukkan keunggulan dalam pasar tenaga kerja dan berkecenderungan lebih berhasil di sepanjang karirnya. Keahlian komunikasi dalam bentuk tertulis yang kuat akan bermuara pada job placement yang lebih baik, diperolehnya kepercayaan untuk memikul tanggung jawab yang lebih besar, kepuasan kerja yang lebih besar, hasil yang lebih tinggi dalam job performance evaluations dan kemajuan karir yang lebih pesat. Kemampuan menulis yang tidak jelas, ambiguous dan tak terorganisir dengan baik akan menghasilkan kerugian berupa turunnya tingkat kepercayaan supervisor atau client’s goodwill.

US Labor Departement (Depnakernya Amrik) memberikan catatan bahwa sebagian besar bidang profesi dan pekerjaan di masa yang akan datang, akan menuntut kemampuan menulis sebagai salah satu syarat utama. Dunia kerja terus berubah dan yang akan survive adalah orang-orang yang memiliki kemampuan dalam komunikasi, tanpa memandang bidang pekerjaannya (1991).

Pada tahun 1992, Associated Press melaporkan hasil sebuah survey yang dilakukan terhadap 402 perusahaan. Survey itu mengungkapkan bahwa para eksekutif memberi penghargaan tertinggi pada kemampuan menulis namun dalam kenyataannya, 80% pegawai mereka berada pada tingkat memprihatinkan sehingga harus di upgrade kemampuan menulisnya. Angka ini menunjukkan peningkatan sebesar 20% dibandingkan hasil survey yang sama tahun 1991.

Tahun 1993, Olsen Corp. – sebuah perusahaan penempatan tenaga kerja – melakukan sebuah survey yang menunjukkan bahwa 80% dari 443 pegawainya memerlukan pelatihan khusus untuk meningkatkan kemampuan menulisnya. Berbagai studi menunjukkan bahwa sepertiga dari kantor akuntan publik di Amerika ternyata tidak puas terhadap kemampuan komunikasi yang dimiliki oleh para akuntan baru. Salah satu dari studi itu menunjukkan bahwa kemampuan menulis yang buruk ternyata memiliki peran sebagai penyebab para akuntan entry-level kehilangan pekerjaannya (Kim, “Accountants as Communicators,” Trusted Professional, edisi Desember 1998). Dari 19 karakteristik yang dipersyaratkan recruiter kantor akuntan publik, teridentifikasi bahwa kemampuan menulis menempati urutan kelima paling penting sebagai karakteristik penentu dalam penyaringan awal calon akuntan baik di kampus-kampus maupun dalam proses interview. Kemampuan menulis memiliki ranking yang lebih tinggi dari pada kemampuan teknis, keanggotaan dalam Beta Alpha Psi, pengalaman kerja dan reputasi almamater (Moncada dan Sanders, “Perceptions in the Recruiting Process,” CPA Journal, edisi Januari 1999).

Dari 22 macam keahlian yang dianggap kritis dalam bisnis dan ekonomi, praktisi akuntansi me-ranking kemampuan komunikasi tertulis sebagai keahlian yang paling penting untuk dikembangkan di lingkungan mahasiswa (Albrecht dan Sack, “Accounting Education: Charting the Course through a Perilous Future” Agustus, 2000). Menurut sebuah survey dari majalah Fortune 500, para senior tax executives menemukan bahwa kemampuan menulis adalah termasuk atribut yang paling penting dalam proses perekrutan (Paice dan Lyons, “Addressing the People Puzzle,” Financial Executive, edisi September 2001).

Kemampuan menulis yang sempurna secara jelas membedakan high performers dalam bidang konsultasi perpajakan dari orang-orang yang semata-mata menginterpretasikan dan menerapkan aturan perpajakan (Sherrie Winokur, Tax Partner, Pricewaterhouse Coopers.) Sebuah survey dilakukan oleh suatu tim dari Southern Utah University terhadap 90.000 anggota AICPA (American Intitute of Certified Public Accountants) dan IMA (Institute of Management Accountants). Dari 2.181 respon yang masuk seluruhnya menunjukkan bahwa “writes well” – kemampuan menulis yang baik - adalah satu dari tujuh keahlian yang sangat penting yang harus dimiliki oleh setiap akuntan khususnya di tingkat entry level.

Enam atribut lainnya, ternyata juga kembali pada faktor pentingnya kemampuan menulis yaitu kemampuan mendengar secara efektif, kemampuan menggunakan tata bahasa yang baik dalam berbicara dan menulis, kemampuan membuat dokumen dengan ejaan yang tepat, kemampuan mengajukan pertanyaan yang tepat saat berhadapan dengan klien, kemampuan untuk mengorganisir informasi ke dalam kalimat dan paragraf, dan kemampuan untuk menggunakan vocabulary bisnis dengan benar. National Commission on Writing di Amerika Serikat (beranggotakan lebih dari 4.300 sekolah dan perguruan tinggi) mengungkapkan beberapa hal berkaitan dengan perlunya “revolusi dalam menulis” sebagaimana disarikan berikut ini. Grammar atau tata bahasa, retorika dan logika adalah dasar-dasar yang membangun proses real learning dan self-knowledge. Artinya, semua itu adalah dasar bagi pengembangan proses belajar yang nyata dan bagi pengembangan karir pribadi seseorang.

Kemampuan untuk mengatakan sesuatu secara benar, baik dan masuk akal adalah nilai dasar bagi dunia pendidikan. Oleh karena itu, menulis dengan baik adalah sebuah kemampuan yang tidak boleh ditinggalkan atas dasar tiga pilar utama sebagai berikut.

Pertama, aktivitas menulislah yang telah merubah dunia. Berbagai revolusi di dunia dimulai dari menulis. Dalam banyak hal, menulis telah meningkatkan taraf hidup manusia secara keseluruhan, apapun bidang yang dirambahnya. Dalam faktanya, segala hal yang menekan dan terjadi dalam sejarah selalu mendorong orang untuk kembali ke tinta dan alat tulis.

Kedua, aktivitas menulis secara nyata telah terbukti memperkaya kehidupan politik setiap negara. Para pemimpin besar telah memadukan unsur kekuatan dan persuasi yang bisa mendorong orang melihat berbagai hal dari sudut-sudut baru yang lebih baik. Mereka telah menggunakan kekuatan kata, bahasa dan tulisan untuk mengingatkan kembali perlunya berbagai standar yang lebih tinggi guna mencapai kesejahteraan yang lebih baik.

Ketiga, menulis ternyata juga bisa mengungkap secara sangat mendalam berbagai hal yang seringkali orang tidak melihatnya. Padahal, semua hal yang tadinya tak terlihat itu adalah bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan setiap orang. Menulis adalah sesuatu yang lebih jauh dan dalam dari sekedar menguasai tata bahasa dan tanda baca.

Menulis adalah sebuah proses yang dapat mengembangkan kemampuan dalam berpikir dinamis, kemampuan analitis dan kemampuan membedakan berbagai hal secara akurat dan valid. Menulis bukan hanya sebuah cara untuk mendemonstrasikan apa yang telah diketahui, lebih dari itu menulis adalah cara untuk memahami apa yang telah diketahui. Menulis akan meningkatkan rasa percaya diri, dan rasa percaya dirilah yang akan memunculkan berbagai kreatifitas dan rasa bahagia.

Manfaat pribadi yang bisa diperoleh dengan menulis adalah:

- Koneksi dan jaringan untuk kepentingan karir;

- Pengetahuan yang lebih mendalam;

- Motivasi personal dan sosial yang meningkat;

- Financial reward;

- Kredit akademis;

- Hubungan dengan dunia ilmu yang tak terputus.

Ingatlah bahwa ilmu selalu berubah dan berkembang, demikian juga berbagai aturan main dalam dunia usaha, baik aturan formal seperti hukum perpajakan maupun aturan main dalam bisnis;

- Kemampuan yang lebih baik dalam bekerja secara tim (team work);

- Kemampuan yang lebih baik dalam aspek komunikasi yang lain seperti membaca, mendengar dan berbicara;

- Peningkatan dalam kemampuan presentasi;

- Peningkatan percaya diri dan personal branding. Anda menaikkan status dan posisi personal branding dan corporate branding Anda dengan cara yang elegan dan tanpa biaya. Ingatlah bahwa di era sekarang, personal branding adalah hal yang penting.

- Profesional plus. Nilai plus-lah yang bisa memperpanjang karir Anda dan membantu mencapai berbagai harapan dan cita-cita;

- Anda telah membuka pintu-pintu baru bagi masa depan Anda dengan lebih baik, apapun konsepsi Anda tentang masa depan itu. Anda mulai membangun rumah-rumah baru bagi masa depan Anda sendiri;

- Anda siap dengan berbagai argumentasi dan analisis akurat di semua bidang;

- Anda menjalani profesi Anda dengan lebih baik dan dengan masa depan yang lebih baik. Itu pasti;

- Anda sudah mulai membenahi apa-apa yang sudah Anda pelajari sejak kecil dengan bersusah payah dan sempat tersia-sia. Dengan demikian, Anda akan memiliki kemampuan yang seimbang dalam mengembangkan diri dan profesi. Anda akan mampu, survive dan sukses dengan personal branding yang kuat; - Ini adalah KESEMPATAN bagi Anda untuk BERINVESTASI.

Saya Tidak Punya Waktu

Ungkapan itu sebenarnya berbahaya. Anda mengatakan tidak punya waktu karena mengejar dan menyelesaikan berbagai hal dalam pekerjaan, karir dan cita-cita. Bagaimana mungkin Anda tidak punya waktu untuk sesuatu yang dapat membantu terwujudnya semua itu? Bukan tidak mungkin, waktu Anda yang tersita habis selama ini justru disebabkan karena kekurangoptimalan Anda dalam membaca, mendengar, berbicara dan menulis. Dan menulis, ibarat “sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui’. Dengan menulis, Anda memperbaiki dan meningkatkan kualitas Anda dalam membaca, mendengar dan berbicara. Di samping itu, ada banyak cara yang bisa membantu Anda dengan berbagai hal yang dapat menghemat waktu berharga Anda seperti, teknik wawancara, teknik ghost writing, teknik asistensi dan riset, dan berbagai teknik lain sesuai kesepakatan.

Saya Tidak Berbakat Menulis

Sekali lagi, ungkapan Anda berbahaya. Anda tidak semestinya membangun tembok-tembok bagi pengembangan pribadi Anda sendiri dengan tidak membuka pintu dan peluang baru yang mencerahkan masa depan Anda. Dalam banyak kasus, berbagai media yang ada seringkali dibangun dan dikembangkan oleh orang-orang teknis yang SAMA SEKALI tidak berlatar belakang dunia tulis-menulis. Para kontributor mereka pun demikian. Itu sebabnya media-media itu tidak melulu berpaling pada orang-orang dari dunia jurnalistik. ANDALAH orang yang paling tepat untuk menulis. Anda adalah jurnalis. Tidak ada yang bisa menjanjikan bahwa tulisan Anda akan fenomenal. Tapi siapapun bisa menjamin bahwa tulisan Anda bisa diperbaiki menjadi sesuatu yang lebih menguntungkan Anda.

Saya Tidak Boleh Menggunakan Nama Perusahaan dalam Menulis

Anda boleh memilih untuk anonymous. Anda bisa menggunakan nama “Si Keren Ujang” misalnya, dan jika tulisan Anda sudah mulai diminati, maka cepat atau lambat “Si Keren Ujang” akan identik dengan nama Anda sendiri. Ingatlah bahwa menulis adalah investasi dan kesempatan itu sering diberikan dengan free.

Bidang Saya Tidak Terkait dengan Apa yang harus Ditulis

Hampir semua bidang menjadi aspek mendasar dalam kehidupan setiap masyarakat dan bangsa. Profesi Anda juga pasti bisa dikaitkan ke sana. Oleh karena itu dunia tertentu bisa ditinjau dari segala aspek dan profesi yang ada. Anda bisa memandangnya dari segi hukum, seni, ekonomi, manajemen, sumber daya manusia, sosiologi, psikologi, pertanian, peternakan, perikanan dan sebagainya. Anda ungkapkan saja ide-ide yang Anda punya sesuai bidang Anda, mereka akan membuatnya menjadi wacana. Anda bahkan cukup berbicara tentang dunia Anda, merekalah yang akan membumbuinya dengan aspek bidang mereka.

Saya Pernah Menulis dan Ditolak

Pada prinsipnya, apa yang dilakukan adalah bukan penolakan. Media sangat memahami bahwa setiap pemikiran dan ide semestinya bisa diungkapkan dan dirilis kepada publik. Hanya saja seringkali mereka dengan terpaksa harus mendahulukan tulisan yang siap rilis. Anda hanya ditantang untuk bersaing, tulisan Anda atau tulisan orang lain. Itu saja. Ada media yang mungkin siap mengolah kembali tulisan Anda dari keadaan seadanya dan menjadikannya alat investasi bagi Anda. Sebab, mereka memahami bahwa dunia di luar sana amat membutuhkan buah pikir Anda.

Kompensasinya Masih rendah

Tergantung cara pandang dan orientasi Anda.

Tidak Bisa Menuangkan Ide

Hampir semua media mengembangkan berbagai cara untuk bisa menjadi wadah bagi aliran ide dan pemikiran Anda. Pada prinsipnya, mereka akan mencoba berbagai hal untuk bisa menangkap ide Anda. Bila perlu, mereka menerapkan metode wawancara atau ghost writing. Yang penting, Anda punya sesuatu yang juga penting.

Saya Nggak PD

Menulis adalah salah satu cara terbaik untuk menaikkan PD Anda secara elegan dan profesional. Justru karena itulah Anda harus menulis.

Saya Sudah Menulis di Tempat Lain

Yakinlah tidak ada satu media pun yang melarang seorang penulis untuk menulis di media lain. Setidaknya hal itu bisa ditengahi dengan berbagai kesepakatan. Mereka tidak ingin melakukan hal itu. Anda bebas menulis di media lain. Mereka hanya beranggapan bahwa mereka adalah salah satu media dari semua media yang ada, dan mereka amat memahami fokus dan keunikannya masing-masing sebagai sebuah media. Yang jelas, dengan menulis Anda sudah menambah nilai plus bagi personal branding Anda.

Saya Adalah Penulis Buku dan Bukan Penulis Artikel Pendek

Dalam banyak hal, Anda mungkin punya ide atau gagasan yang tidak cukup panjang dan dalam untuk dijadikan sebuah buku. Atau sebaliknya, sebuah buku Anda bisa Anda sarikan dalam bentuk yang lebih pendek berupa artikel. Ini berarti promosi bagi buku Anda sendiri. Selain itu, waktu yang dibutuhkan untuk menulis artikel cenderung lebih singkat. Sementara itu, kontak Anda dengan pembaca cenderung bisa lebih ditingkatkan frekuensinya. Ini akan sangat menguntungkan bagi buku-buku Anda di masa depan. Dan jika Anda cukup sering menulis, koleksi artikel Anda itu bisa Anda jadikan buku di kemudian hari.

Saya Tidak Menguasai Aturan Main di Bidang Itu

Mungkin Anda benar. Akan tetapi, dengan sedikit menggali Anda pasti bisa meyakini bahwa Anda adalah satu dari sedikit orang yang memahami aturan mainnya – apapun bidang itu. Artinya, pemikiran Anda tetap dibutuhkan oleh banyak orang yang jauh lebih awam daripada Anda sendiri.

Media Itu Tidak Blak-Blakan

Ini adalah kendala yang dihadapi setiap media selama hidupnya. Visi dan misi setiap media mengharuskan mereka berdiri pada posisi yang netral dengan asumsi bahwa posisi ini akan memberi manfaat yang lebih besar bagi semua sistem dan budaya serta bagi semua khalayak yang terlibat di dalamnya. Pada prinsipnya, setiap media harus mengungkapkan apa adanya, namun demikian hal itu harus dilakukan dengan bijaksana tanpa dikotori oleh unsur SARA misalnya. Adalah tanggung jawab mereka untuk mengungkapkan sesuatu yang blak-blakan dalam cara yang lebih konstruktif, Anda tetap bisa berbicara blak-blakan. Namun Anda harus memahami, bicara blak-blakan yang tidak disertai dengan kebijaksanaan akan lebih destruktif sifatnya. Oleh karena itu, banyak media lebih memilih pendekatan yang bijaksana, sistemik dan ilmiah. Ini saatnya rekonsiliasi dan bukan saling menyakiti.

Saya Lebih Suka Menulis Fiksi

Ada yang sudah menyediakan tempatnya, dan mereka akan mencoba mentransformasikan ide dan gagasan Anda ke dalam “format mereka”.

Tidak Ada Komputer untuk Menulis

Anda tidak bisa beralasan seperti itu. Banyak media juga menerima kontribusi dalam bentuk tulisan tangan. Bahkan, ada juga yang menerima ide dan gagasan dalam bentuk suara atau gambar. Sudah Terlambat bagi Saya untuk Menulis Tidak. Inilah saatnya di mana Anda bisa menuang kan segala ide dan gagasan Anda demi masa depan diri sendiri dan demi masa depan bangsa ini. Jika Anda sebagai ahlinya tidak mau berbicara, maka segala cita-cita termasuk cita-cita pribadi Anda, akan terkendala.

Kesimpulan

Raihlah tingkatan tertinggi dalam kemampuan profesi. Jadilah orang yang eksak. Bicaralah kepada yang sudah mati, kepada yang tidak hadir dan kepada yang belum lahir. Apapun profesi Anda, Anda harus mulai menulis. Dari berbagai sumber. "Hanya ada satu jalan untuk meningkatkan kemampuan menulis, yaitu menulis. Apa saja."

*..CINTA SEJATI..*

February 8th, 2007 by erik-ariyanto

CINTA SEJATI

Seorang hamba sahaya bernama Tsauban amat menyayangi dan merindui Nabi Muhammad saw. Sehari tidak berjumpa Nabi, dia rasakan seperti setahun. Kalau boleh dia hendak bersama Nabi setiap masa. Jika tidak bertemu Rasulullah, dia amat berasa sedih, murung dan seringkali menangis. Rasulullah juga demikian terhadap Tsauban. Baginda mengetahui betapa hebatnya kasihsayang Tsauban terhadap dirinya.

Suatu hari Tsauban berjumpa Rasulullah saw. Katanya "Ya Rasulullah, saya sebenarnya tidak sakit, tapi saya sangat sedih jika berpisah dan tidak bertemu denganmu walaupun sekejap. Jika dapat bertemu, barulah hatiku tenang dan bergembira sekali. Apabila memikirkan akhirat, hati saya bertambah cemas, takut-takut tidak dapat bersama denganmu. Kedudukanmu sudah tentu di syurga yang tinggi, manakala saya belum tentu kemungkinan di syurga paling bawah atau paling membimbangkan tidak dimasukkan ke dalam syurga langsung. Ketika itu saya tentu tidak bersua muka denganmu lagi."

Mendengar kata Tsauban, baginda amat terharu. Namun baginda tidak dapat berbuat apa-apa kerana itu urusan Allah. Setelah peristiwa itu, turunlah wahyu kepada Rasulullah saw, bermaksud "Barangsiapa yang taat kepada Allah dan RasulNya, maka mereka itu nanti akan bersama mereka yang diberi nikmat oleh Allah iaitu para nabi, syuhada, orang- orang soleh dan mereka yang sebaik-baik teman." Mendengarkan jaminan Allah ini, Tsauban menjadi gembira semula.

Tauladan dari kisah ini:

Cinta kepada Rasulullah adalah cinta sejati yang berlandaskan keimanan yang tulen Mencintai Rasul bermakna mencintai Allah Kita bersama siapa yang kita sayangi. Jika di dunia sayangkan nabi,insyallah kita bersama nabi di akhirat nanti.

Hati yang dalam kecintaan terhadap seseorang akan merasa rindu yang teramat sangat jika tidak bertemu . Pasangan sahabat yang berjumpa dan berpisah kerana Allah semata-mata akan mendapat naungan Arasy di hari akhirat kelak Rasulullah amat mengetahui mana-mana umatnya yang mencintai baginda,meskipun baginda sudah wafat.

Rasulullah memberi syafaat kepada sesiapa di antara umatnya yang mengasihi baginda. Sebaik-baik sahabat ialah mereka yang berkawan di atas landasan keagamaan dan semata-mata kerana Allah.

Konsep Kerja Cerdas

February 6th, 2007 by erik-ariyanto

Hasil penelitian Pareto sejak tahun 1897 diresmikan menjadi sebuah rumus atau formula dengan berbagai macam nama: Pareto Principle; The Pareto Law; The 80/20 rule; The Principle of Least Effort; atau The principle of Imbalance. Bahwa manusia, benda-benda, waktu, keahlian, atau semua alat produksi telah memiliki aturan alamiah yang berkaitan antara hasil dan aktivitas dengan jumlah perbandingan mulai dari 80/20 atau 70/30.

Karena dianggap memberi pencerahan, rumus tersebut lalu diterapkan ke dalam pengembangan pribadi . Ternyata para pakar di bidangnya masing-masing menemukan sesuatu yang kira-kira sama dengan temuan Pareto. Artinya jika bicara hasil, ketepatan proses, dan kualitas maka hal-hal tersebut erat hubungannya dengan how well atau how good are you doing, bukan how often dan how long. Dengan kata lain hasil yang diperoleh ditentukan sejauhmana anda bisa bekerja secara cerdas. Beberapa contoh:

  1. Dalam dunia bisnis, untuk merebut pasar anda harus berpikir minimalistis dalam arti ketepatan strategi yang tidak melebihi kebutuhan pasar. Artinya temukan 20% dari strategi yang bisa merebut 80% daya tarik pasar dengan memberi 80% premiun solusi kepada 20% pelanggan setia. Jangan mengobral strategi yang justru menghabiskan 80% cost padahal hanya akan menciptakan 20% rate of return (Mack Hanan, dalam Fast Growth Strategy, McGraw-Hill International, Singapore, 1987). 

  2. Penelitian dalam hal efektivitas dan efisiensi waktu menemukan bahwa 80% prestasi seseorang di bidang apapun diraih dari 20% waktu yang dikeluarkan. Dan 80% kebahagian hidup ditentukan dari 20% waktu yang digunakan untuk mencarinya. Tanyalah pada diri anda, berapa jumlah waktu yang benar-benar anda gunakan dalam kaitan dengan tujuan anda pergi ke kantor selain waktu macet, ngobrol, atau melamun, atau membicarakan persoalan lain dengan kawan kerja? Jika jawaban anda ternyata menggunakan rumus yang sebaliknya maka anda tidak memiliki perbedaan dengan orang lain dan itu smaa artinya bahwa anda belum menerapkan cara kerja cerdas. 

Aplikasi Kerja Cerdas 

Sebagai bangsa yang agamis sekaligus kaya budaya leluhur, sebenarnya seruan kerja cerdas ini bukanlah barang baru. Tetapi persoalannya lagi - lagi berupa tools yang tidak di-update. Selain disampaikan dengan "bahasa langit" yang seringkali menafikan proses pemahaman secara ilmiah dan alamiah pun juga tidak dilakukan elaborasi kontekstual. Akibatnya pemahaman tentang ajaran agama dan budaya hanya bekerja pada persoalan yang bersifat minoritas dalam kehidupan nyata. Sebelum Pareto mengumumkan hasil penelitiannya dengan formula 80/20, kita sudah diajarkan menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan mubazir atau yang tidak perlu. Sayangnya, ajaran mubazir yang kita pahami hanya sebatas kalau kita membuang makanan yang tersisa. Amat jarang kita berpikir mubazir secara profesi, ekonomi, atau strategi.

Untuk menjauhkan diri dari tindakan yang mubazir dalam kaitan dengan realisasi kerja cerdas harus dimulai dari langkah-langkah berikut:

1. Fokus pada skala pengembangan 

Jika anda yakin bahwa diri anda memiliki keunggulan atau bakat alamiah, disamping memiliki kelemahan yang diakibatkan oleh faktor heriditas atau lingkungan, maka yang benar-benar anda butuhkan adalah hidup dengan keunggulan tersebut secara cerdas (living with the advantage competitive factors). Hanya jika anda menemukan strategi hidup dengan keunggulan, maka anda akan keluar dari batas rata-rata prestasi lingkungan. Sebelum itu, paling maksimal yang bisa anda capai adalah kualitas hidup seperti orang lain atau seperti yang diraih oleh sepuluh orang yang anda kenal paling dekat. Lalu ke mana keunggulan tersebut diarahkan? Jelas, keunggulan itu harus diarahkan untuk mengoptimalkan apa yang disebut dalam rumusan Pareto dengan 20% of determining factors (factor penentu). Oleh karena itu, temukan apa saja yang menjadi faktor penentu keberhasilan anda dari sekian daftar kegiatan yang anda lakukan dalam hidup. Tinggalkan hal-hal yang tidak perlu dan fgokuskan hanya pada hal-hal yang berpotensi untuk pengembangan diri. 

2. Berani Berkorban 

Di dalam dunia yang sebesar ini terdapat sekian banyak "persoalan kecil" yang kalau anda tidak berani berkorban untuk memaafkannya bisa jadi persoalan itu akan mendominasi muatan pikiran anda yang akhirnya bisa membuat anda melupakan sisi keunggulan, cita-cita, fokus pengembangan diri, dan lain-lain. Contoh yang paling sederhana dan sering terjadi di depan mata kita adalah ketika sedang di jalan raya. Di luar dari persoalan tabrakan serius, terkadang hanya karena mobilnya tersenggol sedikit saja orang rela membuang banyak waktu dan kebahagiannya pergi ke kantor. Bahkan bisa berkembang ke arah baku hantam. Padahal kalau dimaafkan (mau berkorban sedikit dengan kehilangan uang beberapa ratus ribu saja untuk memperbaiki mobil yang lecet), maka semua urusan selesai.

Auditlah pikiran anda, persoalan apa saja yang kalau anda memaafkannya tidak akan merugikan anda secara misi atau visi dan tidak mengganti isi pikiran anda dengan muatan negatif.

3. Membuat Sekat Pembatas 

Pada akhirnya anda harus menentukan batasan-batasan tentang apa yang ingin dicapai, bagaimana mencapainya, apa modal yang dimiliki, dan akan kemana anda mengarahkan hidup anda. Dalam proses inilah terjadi seleksi dan pengecualian. Dari sekian luas dunia dan isinya, apa saja yang telah anda seleksi menjadi hal yang benar-benar anda inginkan sesuai format pondasi personal anda seperti: kiblat hidup, cita-cita, tujuan, target dan tindakan. 

Berkembang Menembus Batasan

February 5th, 2007 by erik-ariyanto

Bila kita melihat keadaan di sekitar kita hari-hari ini, kita akan melihat betapa cepatnya jaman ini berkembang. Bahkan perubahan tersebut seringkali terjadi tanpa kita sadari. Sebagai contoh, teknologi yang berkembang begitu pesat, intelektual yang semakin meningkat, penemuan-penemuan baru di bidang kesehatan dan obat-obatan, dsb. Perubahan tersebut tidak dapat kita hindari, sebagaimana ada pepatah yang mengatakan, "Satu-satunya hal yang tidak akan pernah berubah, adalah perubahan itu sendiri."

Bila kita terlena sedikit saja, besar sekali kemungkinan untuk kita akan kehilangan kesempatan kita untuk berkembang, atau setidak-tidaknya kita akan tertinggal dengan semua kolega kita. Maka dari itu kita harus belajar untuk membiasakan diri dengan perubahan tersebut, sehingga kita akan menjadi pribadi yang mudah untuk beradaptasi dengan situasi yang ada, tanpa meniadakan norma, prinsip dan nilai yang sudah kita pegang dari mulanya.

1. Miliki tujuan yang jelas - kembangkan!.
Orang yang tidak memiliki tujuan di dalam hidupnya tidak akan pernah bisa berkembang dengan maksimal. Mengapa? Karena dia tidak akan tahu ke mana dia harus melangkah, dan ini akan berdampak pada keputusan-keputusan yang diambilnya. Tetapi untuk menjadi berkembang tanpa batas, seseorang juga harus memiliki kemampuan untuk memperluas tujuannya. Walt Disney dapat berkembang begitu luas sampai ke seluruh dunia hanya dimulai dari mimpi seorang Walter Elias Disney yang miskin untuk berusaha membahagiakan semua anak di seluruh dunia. Dan sampai sekarang, meskipun Mr. Disney sudah meninggal, tetapi mimpi itu masih terus berlanjut.

2. Miliki inisiatif untuk berkembang tanpa batas.
Saat Christopher Columbus ingin berlayar mengelilingi dunia, semua orang menganggapnya gila karena mereka percaya bahwa bumi itu datar, bukan bulat. Tetapi karena keberaniannya untuk berinisiatif ‘gila’ tersebutlah kita dapat mengetahui fakta bahwa bumi memang bulat, bukan datar. Saat kita ingin berkembang, jangan menunggu perubahan terjadi pada orang lain baru kita dapat berkembang. Miliki mental bahwa perubahan itu harus dimulai dari diri kita, bukan orang lain.

3. Berpikirlah selangkah lebih maju.
Thomas John Watson, pendiri perusahaan komputer raksasa IBM suatu hari memaparkan kunci dari keberhasilan IBM, dan berkata, "Setiap kali kami memperoleh kemajuan dalam IBM, itu adalah karena ada orang yang mau untuk mengambil kesempatan, memikirkannya dengan keras, dan mencoba sesuatu yang baru." Di dalam hidup ini, kita memiliki pilihan untuk menjadi orang seperti apakah kita. Apakah kita ingin menjadi orang yang gagal, ataukah biasa-biasa saja, ataukah kita ingin menjadi orang yang unggul? Orang yang ingin menjadi orang yang unggul, ia harus melatih cara berpikirnya untuk selalu mengeluarkan ide-ide yang mungkin bahkan belum terpikirkan oleh orang-orang di sekitarnya.

4. Kembangkan rasa ingin tahu yang positif.
Semua penemuan bersejarah di seluruh dunia ini pasti didasari dari keingintahuan dari para penemunya. Tidak selamanya rasa ingin tahu itu adalah sesuatu yang negatif, karena selama kita dapat memanfaatkan rasa ingin tahu kita untuk sesuatu yang positif dan berguna bagi banyak orang, rasa ingin tahu tersebut akan menjadi sesuatu yang menguntungkan. Seorang Albert Einstein tidak akan pernah menjadi penemu dari teori relativitas yang sangat terkenal itu bila dia tidak memiliki rasa ingin tahu yang besar akan bagaimana energi dapat memiliki hubungan yang erat dengan massa sebuah benda dan kecepatan cahaya.

5. Rajin-rajinlah membaca.
Setiap orang yang tidak memiliki wawasan yang luas pasti akan mengalami masalah dalam berkomunikasi dengan berbagai macam tipe orang. Dan salah satu cara yang baik untuk memiliki wawasan yang luas adalah dengan meningkatkan minat baca. Thomas Jefferson, presiden ketiga Amerika Serikat, adalah seorang yang sangat dikenal lewat kinerjanya dalam menuliskan Deklarasi Kemerdekaan Amerika Serikat. Tetapi mungkin tidak semua orang menyadari bahwa Thomas Jefferson adalah seorang kolektor buku, yang membuatnya menjadi seorang yang sangat berwawasan luas dalam berbicara berbagai aspek, mulai dari pertanian, arsitektur, bahkan sampai penelitian fosil-fosil purbakala.

Mungkin, Anda Lazy Thinker Juga

February 5th, 2007 by erik-ariyanto

"Anda pasti tidak malas bekerja. Tapi, apakah Anda tidak malas berpikir juga?"
.
Berdasarkan materi oleh Robert Cialdini, penulis buku "Influence: The Psychology of Persuasion" dan Profesor Tom Hobbs dari Chapman University.

Apakah Anda termasuk lazy thinker tipe A?
Lazy thinker tipe A adalah orang yang malas berpikir, sehingga menerima begitu saja segala sesuatu. Atau malas berpikir, sehingga begitu saja memutuskan dan mengambil tindakan. Lazy thinker yang hanya bertindak tanpa berpikir.

Apakah Anda termasuk lazy thinker tipe B?
Lazy thinker tipe B adalah orang yang terlalu banyak mikir, sehingga terlalu sulit untuk menerima sesuatu. Atau kebanyakan mikir, sehingga tak kunjung memutuskan dan mengambil tindakan. Lazy thinker yang hanya terus berpikir, kecuali berpikir tentang perlunya bertindak.

Waspadalah, sebab sebaiknya, Anda tetap berada di tengah-tengah antara A dan B.

Sebagai catatan, ini BUKAN soal BENAR atau SALAH, dan ini BUKAN soal BAIK atau BURUK. Ini hanyalah soal cara berpikir Anda. Paling jauh, ini cuma soal bagaimana bersikap lebih bijaksana. Ingat pula, kita semua memang cenderung terjebak di dalam A atau B. Itu saja.

Jadi, Anda memang tak perlu merasa dihakimi.

LAZY THINKER TIPE A

Apa yang diungkapkan berikut ini, disebut Dr. Robert Cialdini sebagai "the cue of life". Profesor Tom Hobbs dari Chapman University menyebutnya "The CLARCCS CUE". Yaitu, kecenderungan diri kita untuk malas berpikir dan langsung bertindak. Bertindak tanpa dipikir-pikir.

1. COMPARISON RULE

Jika orang-orang melakukannya, kita juga harus melakukannya.

Hanya sedikit dari kita yang mampu bertahan dari hukum ini. Anda berjalan di sebuah trotoar, dan sesaat kemudian di depan sana, Anda melihat tiga orang sedang menengadah menatap ke langit. Saat Anda makin mendekati mereka, apa yang Anda lakukan? Anda ikut melihat ke langit dan bertanya: "Ada apa ya?"

Burung?
Pesawat?
UFO?

Bukan! Itulah yang namanya comparison rule atau hukum pembandingan. Saat orang-orang di sekitar Anda melakukannya, Anda juga merasa harus melakukannya. Orang berbondong-bondong membeli HP baru, kita juga. Banyak pengusaha mem-PHK karyawan, kita juga ikut melakukannya. Bisnis voucher lagi rame, kita langsung ikut saja.

Jika kita tidak berpikir dengan berhati-hati, kita akan menjadikan perilaku orang lain sebagai standar perilaku kita sendiri. Kita menjadikannya sebagai pedoman dan guidance.

Anda pikir saja sendiri. Jika seseorang di dekat Anda berteriak "gempa, gempa!", maka sudah sewajarnya Anda bereaksi cepat dan melihat ke arah mana orang lain bergerak. Tapi jika orang lain berkata pada Anda, "barang ini bagus, belilah untuk Anda sendiri", apakah Anda memang langsung membelinya?

Lihatlah iklan di televisi, dengan mudah Anda akan menemukan, bagaimana berbagai iklan memanfaatkan hukum pembandingan ini. Bahkan, acara talkshow di televisi pun menggunakan lampu "applause" untuk merealisasikan hukum ini. Jika sebagian orang mulai bertepuk tangan, cepat atau lambat, Anda juga akan bertepuk tangan.

Anda mungkin pernah mendengar, kisah tukang obat di pinggir jalan. Di antara para penontonnya, adalah teman-temannya sendiri, yang berperan sebagai pembeli. Hukum ini juga berlaku di situ.

Anda pasti pernah disodori formulir sumbangan. Perhatikanlah, jika benar-benar menyumbang, maka nama Anda sangat mungkin bukan di nomor yang pertama. Di atas Anda, sudah ada sekian orang penyumbang, dengan nilai sumbangan yang langsung atau tidak merupakan "proyeksi dan harapan", agar Anda menyumbang dengan jumlah yang sama. Syukur kalo bisa lebih. Tul gak?

Maaf, kita tidak boleh menggeneralisir. Sebab mungkin saja, ada orang lain yang sudah menyumbang duluan dengan nilai sesuai yang tertera di sana. Dan kalo Anda mau nyumbang, ya nyumbang aja. Lalu lupakan. Kalo nggak ya nggak usah sekalian. Ini hanya cerita soal kecenderungan cara berpikir kita sebagai manusia.

2. LIKING RULE

Jika kita suka orangnya, kita melakukan apa yang diminta.

Cerita Profesor Hobbs, ada seorang penjual truk bernama Joe Gerard. Joe telah menjual banyak sekali mobil dan truk. Bahkan, Joe mulai dipertimbangkan sebagai Penjual Mobil Nomor Satu di Dunia. Apa rahasianya?

Setiap bulan, Joe membuat kartu berisi tulisan tangannya sendiri, ditandatangani dan kemudian dikirimkan kepada setiap pelanggannya. Isinya cuma begini, "Saya suka Anda, Joe Gerard." Ya, begitu saja, "Saya suka Anda, Joe Gerard." Sekarang, Joe mengirim tidak kurang dari 13.000 kartu yang sama setiap bulannya.

Sederhana saja, Anda menyukai orang, maka orang akan menyukai Anda.

Perhatikanlah apa yang terjadi dalam setiap event, yang diselenggarakan oleh berbagai MLM yang Anda kenal. Di situ, Anda pasti akan menyukai seseorang. Biasanya, orang itu berdiri dan berbicara di depan. Beginilah yang terjadi, Anda saling berkenalan, Anda senang, Anda kemudian menyukai, dan akhirnya Anda akan membeli.

Jika sekarang Anda begitu getol menolak segala bentuk MLM, Anda mungkin bukan lagi lazy thinker tipe A. Tapi waspadalah, jangan sampai Anda malah menjadi lazy thinker tipe B.

3. AUTHORITY RULE

Jika sumbernya punya otoritas, kita cenderung mempercayainya.

Lihatlah idola Anda dalam iklan di televisi. Mungkin ia seorang artis, mungkin tokoh, mungkin orang hebat atau orang terkenal. Apapun yang dipromosikannya, cenderung mempengaruhi Anda. Mereka menjadi endorser, yang mencoba mempengaruhi alam pikiran Anda, agar Anda "mengikuti" mereka.

Seorang aktor Amerika bernama Robert Young, amat dikenal sebagai pemain telenovela yang memerankan seorang dokter bernama "Marcus Welby MD." Dalam peran itu, ia adalah seorang dokter yang ramah, bijak dan hebat. Ia disewa sebuah perusahaan untuk mengiklankan aspirin. Dalam iklan itu, ia adalah seorang "Marcus Welby MD" - seorang dokter.

Jelas saja, penjualan aspirinnya meningkat. Konsumen tidak terlalu aware bahwa yang menjual bukanlah dokter, melainkan seorang aktor saja. Seorang aktor yang nampak dan bertindak dengan penuh otoritas.

Pemerintah melihatnya sebagai upaya pemanfaatan gimmick, yang dapat merugikan masyarakat konsumen. Iklan itupun dihentikan. Namun tak berapa lama kemudian, iklan itu muncul lagi dengan kemasan yang berubah. Dalam iklan baru itu, sang aktor berkata begini, "Saya Robert Young, pemeran Marcus Welby MD." Penjualan aspirin pun tetap tinggi.

Contoh di atas, menjadi salah satu contoh terbaik, tentang bagaimana orang tetap bertahan sebagai lazy thinker tipe A yang sejati.

4. RECIPROCITY RULE

Jika seseorang memberi sesuatu kepada kita, kita merasa harus balik memberi sesuatu kepadanya.

Anda berjalan. Berpapasan dengan orang yang tidak Anda kenal. Cobalah tersenyum. Maka, orang itu akan membalas senyum Anda.

Saya pernah melakukan sesuatu yang cukup gila. Saat berada di kendaraan umum - bersama sekelompok teman tentu saja, Saya melambaikan tangan kepada orang-orang di pinggir jalan, dan berteriak "woooi!" dengan senyuman ramah di wajah Saya. Anda mungkin kaget, betapa banyak orang yang membalasnya seolah-olah mereka sangat mengenal Saya.

Sebuah majalah terkenal, pernah memberi hadiah berupa sepotong pensil untuk orang yang belum berlangganan majalah itu. Di batangnya, ada tulisan "Majalah XYZ". Dan setiap orang, sekalipun tidak membutuhkannya, akan tetap menyimpannya sampai waktu yang lama. Mengapa? Orang sangat menyukai majalah itu. Dan tanpa disadari, tiba-tiba mereka sudah berlangganan setahun di muka.

Sekali lagi sederhana saja. Anda diberi sesuatu. Jika Anda menerimanya, maka Anda sudah "terikat" untuk membalasnya. Itu bukan reward, sebab reward diberikan untuk Anda, hanya jika Anda telah melakukan sesuatu sebelumnya. Pensil itu, diberikan begitu saja sebagai hadiah "tanpa ikatan". Setelah itu, majalah itulah yang akan memanen hasilnya.

Anda punya tetangga baru, kemudian mereka mengundang Anda makan malam di rumahnya. Bagaimana Anda menyikapinya?

5. COMMITMENT/CONSISTENCY RULE

Jika kita punya pendirian, kita cenderung konsisten.

"Maaf Bapak, bukankah pendidikan adalah sesuatu yang amat baik bagi anak Anda?"
"Ya, tentu saja."
"Dan tentunya buku-buku yang baik pasti baik buat mereka kan?"
"Ya iya lah…"
"Kalo begitu, buku-buku yang Saya bawa ini juga pasti bagus dong buat mereka?"
"A..aa.. ntar dulu deh…"

Dalam dunia penjualan, apa yang di atas dikenal dengan nama "four walls technique". Beberapa pakar menamainya dengan "kerangka persetujuan". Apa yang terjadi, sesungguhnya adalah implementasi dari hukum konsistensi. Jika Anda punya pendirian, maka Anda cenderung akan mempertahankannya secara konsisten.

Ada lagi, yang disebut pakar penjualan dengan "bait and switch". Di banyak negara, cara ini dipandang ilegal.

Pertama, Anda diberi umpan berupa promosi suatu barang. Anda terpancing, muncullah interest Anda. Kedua, pancingan itu dihilangkan, dan kemudian diganti dengan barang lain dengan fungsi yang sama, tapi bernilai lebih rendah atau berharga lebih tinggi. Dalam banyak kasus, Anda sangat mungkin akan tetap membeli barang yang kedua.

Apa yang membuat Anda tetap membeli, adalah hukum konsistensi. Di manakah konsistensi Anda? Konsistensi Anda terletak pada pikiran Anda, "Saya akan melepas sejumlah uang di toko ini."

6. SCARCITY RULE

Jika sesuatu itu jarang, maka itu berarti bagus.

Banyak cara yang bisa dilakukan, untuk menciptakan situasi langka. Misalnya, jam diskon di departemen store. Harga tertentu akan Anda peroleh hanya di jam-jam tertentu saja. Model early bird untuk registrasi keikutsertaan sebuah event, itu juga sebuah contoh. Lihatlah apa yang terjadi dengan harga barang antik atau lukisan tertentu. Itulah hukum kelangkaan.

Contoh lain misalnya:

"Limited Time Only"
"The Weekend Special "
"Sale Ends at Midnight"
"Obral Lebaran"
"Diskon Akhir Tahun"

Ya, waktu adalah sesuatu yang paling langka, dan Anda, sangat menghargainya.

Semua petunjuk di atas, adalah sebentuk "mental shorcut" bagi kita, jika kita memang termasuk sebagai lazy thinker yang murni. Dengan shortcut itu, kita akan selalu mencoba meminimalisir upaya mental, upaya proses berpikir, dan upaya fisik kita. Kita tidak akan terjebak di dalamnya, jika kita berusaha untuk berpikir lebih sistematis.

LAZY THINKER TIPE B

Anda, mungkin akan mencoba untuk melepaskan status lazy thinker tipe A. Akan tetapi, berhati-hatilah untuk tidak terjebak menjadi lazy thinker tipe B. Ciri-cirinya, adalah jika Anda terlalu banyak berpikir, berpikir, dan berpikir. Anda terus berpikir dan menjadi lupa untuk bertindak. Anda terus berpikir, kecuali berpikir tentang betapa pentingnya bertindak.

Waspadalah, jika Anda sangat terbiasa, otomatis, terlalu cepat, atau tidak sadar, dalam mengatakan yang berikut ini:

"Ah ntar aja."
"Pokoknya nggak deh."
"Nggak tau deh"
"Gimana nanti deh"
"Biarin!"
"Kan masih lama."
"Musuh masih jauh."
"Udah deh. Pokoknya gue belon perlu."

Anda tidak ingin lagi menjadi lazy thinker tipe A, tapi malah terperosok kembali menjadi lazy thinker tipe B.

KESIMPULAN

Waspadalah dan bijaksanalah. Setiap hukum, apalagi hukum buatan manusia, dibuat untuk selalu berada di tengah manusia. Di antara manusia, dan bukan malah di atasnya.

Bijaksanalah. "The cue of life" akan tetap menjadi "the cue of life". "The cue of life" adalah petunjuk. Alias rambu, alias hidayah. Jangan pernah, ia menjadi "the rule of life." Sebab Andalah, yang menyandang gelar "the master of life".

Anda pasti tidak malas berpikir. Tapi, apakah pekerjaan Anda memang hanya berpikir? Anda pasti tidak malas bekerja. Tapi, apakah Anda tidak malas berpikir juga?

By : Erik Ariyanto

Owner Brother Corp.

Marketing Manager PT Character

Trainer & Pembicara Muda YEC